Cerita Jokowi dan Tax Amnesty
Ini tentang kita, tentang negara kita. Perjalanan batin seorang rakyat yang merasa senin kamis di masa Pak Jokowi
Nanya : “Trus ngapa bawa bawa Tom Hanks dan pelemnya “SULLY” itu mak ?
Mak : “Ya teserah gw cerita cerita gw, loe baca gih biar mudheng wkwkwk.”
Sebelum masuk bioskop untuk menonton filmnya Tom Hanks “Sully”, Mak masih sempat WA dengan rekan bisnis, soal sulitnya pembayaran dari klien, mundur lagi mundur lagi kesulitan likwiditas karena a,b,c. Mak bilang “Pusing” Beliau balas : “Ya pusing sejak Jokowi nih” Mak balas lagi dengan icon ketawa.
Ini bukan resensi pelem, ini adalah perjalanan batin, menyadari bagaimana sebenarnya magnitude sebuah tanggung jawab seseorang bila ditempatkan pada posisi dimana banyak nyawa manusia bergantung padanya.
Diceritakan seorang pilot menerbangkan pesawat A320 bersama co-pilotnya, baru sebentar mengudara 2 mesinnya ditabrak burung. 2 Mesin rusak semua idle tak berjalan lagi. Menara pengawas dihubungi, menyatakan keadaan darurat. Menara berusaha memandu kembali ke airport yang tadi atau airport terdekat. Lampu dimatikan, penumpang kalang kabut, awak pesawat berusaha tenang. Dengan segala perhitungan sang pilot dengan cepat harus mengambil keputusan, kalau tidak mati semua nanti salah-salah. Menurut perhitungan pilot tak bisa kembali ke airport, ke airport lain pun tak bisa, ketinggian tak cukup. Maka bersama co-pilotnya dengan konsentrasi dalam sekejap, harus memutuskan, maka ia putuskan akan melakukan pendaratan di sungai Hudson di tengah kota New York karena dengan perhitungan dan pengalamannya cukup.
Kapten berkata melalui mikrofon, merunduklah. Awak memandu semua penumpang agar melakukan apa yang dilakukan pada pendaratan darurat. Pilot dan co-pilot mengarahkan pesawat besar tersebut ke tengah sungai dan melakukan touch down menyentuh permukaan air. Terjadi guncangan tapi tak banyak. Segera pilot keluar dari cockpit bersama co-pilot dan menyerukan evakuasi dipandu awak pesawat.
Dalam proses antara hidup dan mati itu sang Kapten berada bersama penumpangnya, ditengah mereka, memandu mereka agar keluar, bahkan sampai akhir saat air telah masuk, ia harus setengah dipaksa oleh seorang pramugari agar meninggalkan pesawat, ia masih teriak-teriak mencari kalau-kalau ada penumpang tertinggal. Ia yang terakhir keluar bersama co-pilotnya keatas rakit emergency.
Karena di tengah kota, bantuan segera datang, dari polisi, SAR, polisi, dengan kapal, dengan helicopter dan di daratan yang tak jauh. Sang kapten tiba di darat, ia selamat tapi tak berhenti bertanya, sudahkah dihitung penumpangnya dan awaknya berjumlah 155. Karena penumpang terpencar-pencar di pinggir sungai sini dan sana maka belum tau siapa selamat siapa tidak. Sang Kapten dibawa ke rumah sakit, disana ia mendapat kabar seluruh penumpang pesawat dan awak selamat, ia pun taka da luka goresan sedikitpun sama sekali.
Ia menjadi pahlawan, semua mengelukannya, di tv dll wartawan mengejar-ngejarnya. Tapi cerita belum berakhir, ia masih harus menghadapi sidang dari semacam badan penyelidik kecelakaan, perusahaan pembuat pesawat dan pihak asuransi, pihak konservasi alam, pihak pengamat dan bejibun orang yang menuduh ia telah membuat keputusan grasa grusu untuk mendaratkan pesawat di sungai.
Nanya : “Mak capek nih, terus hubungannya Pak Sully sama pak Jokowi nih apaaaaaa????
Begini. Mak ini dahulu pendukung Pak Jokowi, mak merasa beliau orang baik, mempunyai kemampuan seperti air, masuk ke celah-celah yang tertutup, akan bijaksana, akan membawa negeri ini kearah kebaikan, akan jadi presiden yang mak harapkan. Maka siang malam lah mak doakan biar menang, mak taruh-taruh benderanya di desa-desa, mak ajak orang dukung melalui sebuah media, pokoknya apa ajalah supaya si Bapak ini kepilih.
Terharu waktu beliau terpilih, mak berada di Belanda, sedang mengunjungi anak Mak yang di Inggris dan bertemu di Amsterdam. Suami mak si Bapak ucapkan selamat, calon mak telah menjadi Presiden Republik Indonesia, mak rayakan saat itu, keluarlah mak sama anak-anak ke Leidseplein minum orange juice wkwkwk, mampunya segitu doang.
Habis itu pulang ke Jakarta, tunggu punya tunggu, ribut meluluk, ribut KMP, ribut BG, Ribut risapel, ribut menteri kagak becus, ribut Freeport, Ribut SN, pokoknya ribut dah…….ribut terus gw untung kagak.
Ujung-ujungnya, tagihan susah masuk, uang sulit, semua ngeluh usaha sekarang seret, usaha mak juga jadi seret, property jadi melambat, orang bayar ini itu susah, pokoknya seret ret ret.
Saudara mak yang dulu pendukung pihak sebrang mulai bilang ma emak “Loe makan tuh Presiden loe, ancur…cur…cur.”
Lah ngapa gw pulak yang makan, gw juga seret sekarang mah.
Puncaknya dateng pula Tax Amnesty, dengan gosip kiri kanan kagak jelas, yang ditanya gakda yang jelas. Hadirlah emak 2 hari setelah disyahkannya Tax Amnesty itu, diundang soal ini dimana pembicaranya pak Yustinus Prastowo yang konsultan DPR waktu ngesahin RUU nya. Sudah dijelasin sampe plek, masi aja kami-kami yang dodol ini gak ngerti dan gak mudheng.
Akhirnya karena bingung gak karuan mak kirim pesan whatsapp ke rekan mak pendukung die hardnya pak Jokowi
“Gw kagak dukung noh Presiden elu, gw ikut dukung dulu, sekarang senep gw make tax amnesty segala, empet banget gw ma tu orang, ekonomi susah makin susah.”
Rekan mak ini berusaha menenangkan, sabar sabar.
Lalu ada beberapa orang ikut rembukan soal Tax amnesty pula ke emak sampe emak semprot “Tau apa loe, npwp kagak punya, penghasilan brapa, berani mendebat mak soal tax amnesty sapa eloe.” Begitu kata emak dulu, pokoknya ngamuk, ya karena duit seret banget disuruh bayar-bayar pula, make segala rambu-rambu “awas lhoooo awas lhoooo”.
Pokoknya kalau yang sok tau, bayar pajak juga belum pernah, atau diragukan pernah bayar, terus mendukung Tax Amnesty itu mak semprot, mak bilang “Loe ke kantor pajak dulu noh, loe bikin NPWP dulu, kayak gw belasan taun yang lalu, tar loe ngomong lagi ma gw.”
Napa mak ngamuk ?
Karena gak ngerti, karena senep ekonomi lelet, segalanya terasa sulit, tagihan banyak yang macet, media pesimis, yang nyata-nyata gak ada kerasa. Misal bangun jalan di Kalimantan, lah gw gak disono mana tau gw, gitulah kira-kira kurang lebihnya, maksudnya yang dibilang dibangun gw gak rasain, gw susah aja makin susah.
Akhirnya mak digetok ma Bapak sang suami, sang kepala rumah tangga, kata Bapak : “Kita ikut mak, Bapak perintahkan, habis perkara !!”
Mak Bilang “Woi Pak, gede tau nebus nebus, repatriasi, iya kalo aman, itu Tax Amnesty digugat di MK, judicial review, trus katanya nama gak akan dipublikasikan, nah kalo ada yang sok whistle blower empet lah semua, mana ada orang mau ikut, tar dikatain kalo ketahuan ini itu, mending nyolong, ini nyolong nggak, ngerti nggak disalah-salahin, dikira maling selama ini, padahal gak tau menau aturan gimana-gimana, itu yang Panama Papers blom diurusin, yang ikan teri kayak kita ini disuruh-suruh.”
Berantem lah sama Bapak, karena beliau ngotot bilang belum tentu itu Panama Papers gak diurusin, ngurus juga gak bilang ma elu, ada pasti caranya, emang begok diem aja, gak semua itu dibeberkan.
Kata Bapak “Disini kita hidup mak, disini kita sekarang cari makan, Negara ini memerlukan, kita hadir kalau mak percaya seperti dulu mak percaya bahwa pak Jokowi orang yang baik, pribadi yang baik…”
Mak Bilang : “Dasar Bapak sotoy.” Malam itu mak dilempar Koran sama Bapak dan besoknya terbang bersama anak sulung ke Jakarta ada urusan.
Di Jakarta Mak menemui akuntan, Bank dan lain-lain mencari kejelasan tentang tax amnesty ini. Belum juga mau masih pipty piptylah………..
Malamnya mak hadir di acara peringatan kemerdekaan Negara sahabat sambil tax amnesty masi aja di kepala emak, sialan…sialan…sialan gitu bunyi kepala emak, walaupun info sudah cukup jelas dan sudah relative tidak bermasalah, soal Judicial Review dll dari Undang-Undang tersebut dan implikasi implikasi lain.
Tapi saat menyanyikan lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya. Dengan lebaynya mak terharu, ingat kata-kata si bapak “Disini kita berdiri mak, Negara ini membutuhkan dukungan saat ini.”
Mak jadi berkaca-kaca, kami bukan siapa-siapa, kami tak punya banyak uang, seperak dua perak tapi bila hal itu bisa mendukung……………”
Entahlah, besoknya dan beberapa hari kedepannya, mak masukan permohonan tax amnesty itu pada akuntan mak, didapatkannya nomor untuk mak, dengan segala proses-prosesnya, mak setorkan tebusannya, lalu dilaporkannya lagi ke kantor pajak, keluarlah surat tanda terima pernyataan harta, sudah selesai, kami sudah ikut……
Ada seorang rekan yang juga sudah melakukannya mak bilang padanya “Salaman, kita sudah melakukannya.” Beliau seorang keturunan Tionghoa, beliau bilang “Padamu negeri.” Mak iyakan “Padamu negeri.”
Begini ya, Memang Pak Jokowi itu biarpun tingginya mungkin mencukupi, bukanlah seorang pilot pesawat, tapi ia adalah Pilot Bangsa ini, terpilih oleh bangsa ini. Dalam menerbangkan pesawat, banyak keputusan-keputusan yang diambil dalam menempuh perjalanan. Dengan bantuan perangkat, awak, menara pengawas, pemikiran, tujuan, dll.
Beliau menerbangkan Indonesia, dalam penerbangan itu, bisa terjadi turbulence, ditabrak burung songong, ditembak rudal, dipasangin bom, penumpang mabuk mau turun di jalan, ada Negara lagi perang musti cari jalur lain dan banyak lagilah masalahnya, bejibun.
Pak Jokowi ini bertanggung jawab atas kita semua, isi pesawatnya bukan 155 orang tapi dua ratusan juta, ada yang pinter duduk manis, ada yang bayar tiket kelas 1 ada penumpang gelap mungkin, ada yang mabok mau turun di jalan, macem-macem dah. Nah tugas beliau biar kita semua dan pesawat yang kita naikin ini selamet dan penumpangnya selamet semua secara keseluruhan. Tak gampang sulit sekali. Nanti pula ada yang nyidang-nyidang nyidik nyidik nanya keputusan ini bener gak itu kali salah, ada yang bilang gila ada yang sok tau, namanya juga penumpang kapal besar ya macem-macem.
Kita ini lagi terbang, udaranya kacau balau, turbulensi dimana-mana, mengendalikan pesawat tak gampang, kalo gampang sudah jadi pilot mak yang dodol ini, tapi ternyata kan nggak gampang. Di pelem “Sully” ada dewan yang mempertanyakan dengan sinis bahwa keputusan sang pilot salah mendarat di sungai, disimulasikan 20 kali make computer, harusnya balik lagi ke bandara asal. Lah itu kan “katanya” gampang nyuruh computer mah, tapi kalau nyawa manusia beneran, apa si computer ini punya rasa yang bisa membuat ia membuat keputusan yang mengutamakan nyawa penumpangnya ? Tidak computer tidak bisa, simulasi yang ditampilkan hanya serupalah sama teori teori tukang kepret yang bilang harusnya gini harusnya gitu, pas disuruh kagak bisa, ngomong doang seabreg kayak yang bener.
Saya dulu sudah mendukung Jokowi jadi Presiden, sudah saya cela beliau setengah mati, sudah saya benci kebijaksanaannya yang saya bilang gak jelas, pokoknya sudah campur aduklah mak ini. Sudah nyungsep pula di keadaan bisnis yang senin kamis mak alami saat ini.
Tapi mak kembali sadar diri, seperti kebijaksanaan tax amnesty itu. Negara kita lagi butuh dana, rasa keadilan sebagian orang mungkin terlukai, tapi lihat kedepannya, kalau gak dilakukan mau duit darimana pula. Kadang terasa tak adil, tapi liat kedepannya ke hasilnya nanti dana itu bisa dipakai beredar disini, bisa dipakai menstimulasi ekonomi, bangun infra struktur dll. Desperate times need desperate measures.
Beberapa pengusaha besar sudah ikut, entah karena diancam, entah sadar sendiri gak taulah, pokoknya duitnya masuk ke Negara teserah dah, pokoknya bisa dipake duitnya sama Negara ini, daripada kagak, lumayan donk bisa ngemplangin mereka suruh mulangin.
Nanya : “Ah mereka enak banget, ngemplang terus dimaapin…”
Jawab : “Lah daripada ngemplang, terus ngeles, terus kabur, terus Negara mlongo doang bukannya mending kita palakin duitnya masuk ke kas Negara, lumayan buat nambah-nambah.”
Kadang musti nyungsep untuk menyelamatkan seluruh penumpang seperti sang kapten Sully. Apapun demi menyelamatkan penumpangnya, apapun itu. Nah kalau penumpang 155 kan enak, lah ini dua ratusan juta mau disenengin semua ya rada susah, buanyak segitu mah.
Lihatlah jauh kedepan, mungkin kita merasa pengemplang pajak pada diampunin sialan segala lah sumpah serapah silahkan kita keluarkan, sebelumnya liat dulu diri kita sudah punya NPWP belum, sudah bayar pajak belum, jangan ngomong doang, demo lah Judicial review lah, sendirinya gak jelas. Ntar duitnya masuk tong, kalo dah masuk mudah-mudahan agak lancar dikit ni ekonomi.
Mak tak tau lagi manuver atau akrobat apalagi yang bakal dibuat sama Pak Jokowi dan menteri-menterinya setelah ini. Mungkin bikin bingung lagi, mungkin bikin ribut lagi. Tapi disisi Pak Jokowi sekarang berdiri juga Ibu Sri Mulyani, beliau bukan orang bodoh, kalau bodoh gak dipake bank dunia donk beliau, have faith lah sedikit.
Mak pribadi merasakan dalam keadaan sulit sejak Pak Jokowi naik, mungkin karena kata si Pedlih Zonktor gak ada korupsi jadi ekonomi gakda olinya, uang gak beredar, lah iya uang kotor beredar buat apaan juga lama-lama, uang hasil maling gitu.
Memang uang-uang besar itu terasa tak beredar lagi, sulit untuk mak Pribadi untuk menjual property berharga berjuta-juta dollar, dulu mah gampang. Tapi dulu uangnya sepertinya yang panas-panas itu yang disebut oli ekonomi sama si onoh.
Kita mulai dari nol lagi, uang panas perlahan berhenti beredar karena pada takut semua maling-malingnya kalo kalo kena OTT, kalau terdeteksi oleh PPATK. Likuiditas jadi terasa sulit, tapi percayalah, we have to start somewhere. Dan pak Jokowi sudah start, sudah pada ditangkepin maling-maling, sudah gemetar pula yang belum ditangkep, duitnya disimpen di bawah bantal sekarang, di ember, di bak mandi dll.
Dalam setiap kebijakan ada konsekwensi apalagi skalanya besar. Dari hati yang paling dalam saya tetap mendoakan bahwa Pak Jokowi adalah pribadi yang baik dan peduli pada sesamanya, dan berjuang karena peduli pada sesama dan bukan karena hal lain.
Saya mendoakan keberhasilan dan kemakmuran bangsa ini disela-sela tangisan petani singkong yang harga singkongnya murah, diantara buruh-buruh yang di PHK, diantara lulusan universitas yang tak dapat kerja….diantara pula anak-anak bangsa yang terus berusaha walau sulit, pengusaha yang pantang lelah cari peluang, para tukang warung tegal yang tetep jualan biar harga bahan baku mahal, dan segenap rakyat bangsa ini tanpa terkecuali.
Kita harus bersatu untuk maju, kita harus percaya, bahwa segalanya demi kebaikan, kita musti percaya bahwa untuk ke puncak kita harus mulai dari bawah.
Ya saya tetap percayakan pada Pak Jokowi, jangan kecewakan kami rakyat pak, hanya Bapaklah harapan kami, kalo Bapak salah-salah milotin pesawat eh, Negara, nyungsep semua kita ini…
Moga Pak Jokowi sukses membawa kita semua jadi sukses juga.
Padamu Negeri………………….
Note : Saya bukan cebong, saya kodok eh salah wkwkwk teserah loe dah bilang apa, emang gw pikirin.
Komentar
Posting Komentar